Sejarah Daeng Masalleh Pembabat pulau Gili iyang - pulau oksigen

Daeng Karaeng Mushalleh

Ulama Sufi dan Pejuang Pembabat Pulau Oksigen



Sejarah Daeng Masalleh Pembabat pulau Gili iyang
Sejarah Daeng Masalleh Pembabat pulau Gili iyang


Riwayat Hidup Daeng Karaeng Mushalleh
Kerajaan Goa-Tallo terletak di semenanjung barat daya pulau Sulawesi. Lokasi ini merupakan tempat yang begitu strategis. Pada abad ke 17, daerah ini sudah menjadi destinasi berbagai saudagar yang hendak memasarkan barang dagangannya di wilayah Nusantara. Di samping berdagang mereka sebenarnya datang dengan berbagai tujuan. Para pedagang ini begitu nyaman berhubungan sosial dengan orang-orang asli, para penghuni tanah Makasar. 

Tidak heran bila persahabatan mereka begitu kuat, sehingga terpelihara hingga kini. Sejarah mencatat bahwa, orang Makasar terkenal sebagai pelaut sejati, pengarung lautan lepas dengan modal keberanian dan rasa ingin tahu yang begitu besar. Jelas, pengalaman mengarungi samudera luas membawanya pada keluasan batin dan sikap keramah-tamahannya yang sempurna. Berbagai aspek moralitas yang mantap inilah yang menjadikannya siap berhubungan dengan berbagai peradaban yang ada. 

Sejarah mencatat bahwa, mereka (orang Makasar) dianggap berbudi luhur dan bertekad kuat. Karena itulah, wilayah pelayarannya merambah berbagai negeri, seperti Sumbawa, Timor, Bengkulu, Aceh, Perak, Johor, Malaka, Palembang, Banjarmasin dan Manila. Jaringan perdagangan tersebut  di jadikan kendaraan utama oleh para saudagar untuk menyebarkan agama Islam hingga sampai kekarajaan Goa-Tallo. 

Nilai-nilia religiuitas yang di terjemahkan oleh para saudagar muslim pada saat itu, mampu memberikan kesan tersendiri di hati masyarakat makasar, strategi ini memudahkan mereka untuk mensyiarkan nilai-nilai islam. Proses islamisasi dikerajaan Goa-Tallo, jika di bandingkan dengan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, kerajaan Goa-Tallo agak terlambat menerima islam, yaitu pada hari jumat, 9 jumadil awal 1014 H, bertepatan dengan  22 september tahun 1605 M, hal ini disebabkan karena proses islamisasi pertama kali di Indonesia berawal dari kerajaan Samudra Pasai.


Kerajaan Goa Tallo merupakan dua kerajaan kembar, hasil pembagian kerajan Makasar pada pertengahan abad 16. Pada waktu itu raja Makasar membagi kerajaannya antara kedua putranya: yang tua menjadi raja di Goa dan yang muda menjadi raja di Tallo. Kedua kerajaan hidup rukun  dan damai, sehingga dapat di katakan betapa besar ancaman yang menanti pihak lain yang ingin mengganggu kesatuan mereka.

Istana Goa terletak di somba opu. Orang asing menamakannya raja Makasar atau Sultan Makasar. Sultan inilah yang dilukiskan dalam  syair perang Makasar sebagai berikut:

Sultan di Goa raja yang sabar,
Berbuat ibadah terlalu gemar
Menjauhi nahi mendekatkan amar
Kepada pendeta baginda berajar
Baginda raja yang amat elok
Seraksi dengan dinda di Telo’
Seperti embun yang amat sejuk
Cahayanya limpah pada segala makhluk.

Raja mula-mula menerima Islam sebagai agamanya pada hari tersebut adalah Raja Tallo yang bernama Mallingkaan Daeng Mannyonri. Disamping sebagai raja Tallo, Malingkaan pun merangkap sebagai Tumabbicara Buta atau Mangkabumi Kerajaan Goa. Selanjutnya seluruh rakyat di kedua kerajaan kembar itu menerima islam.

Ada cerita menarik di balik islamnya Daeng Mannyonri, diceritakan  selama tiga hari berturut-turut  Baginda Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri Karaeng Katangka yang merangkap Tuma'bicara Butta ri Gowa (lahir tahun 1573), bermimpi melihat cahaya bersinar yang muncul dari Tallo. Cahaya kemilauan indah itu memancar keseluruh butta Gowa lalu ke negeri sahabat lainnya.

Bersamaan di malam ketiga itu, yakni malam jumat tanggal 9 jumadil awal 1014 H atau tanggal 22 sebtember 1605 . di bibir pantai Tallo merapat sebuah perahu kecil. Layarnya terbuat dari sorban, berkibar lalu melakukan gerakan-gerakan aneh yang tidak di kenal sebelumnya, gerakan tersebut membuat orang waktu itu penasaran, lama kelamaan seiring dengan usia zaman masyarakat mengenal gerakan itu sebagai gerakan sholat.

  Cahaya yang terpancar dari tubuh lelaki menyinari kota Angin Mammiri, seakan bertanda bahwa cahaya  itu yang akan  menghilangkan kabut hitam kejahilan dan kejahiliyaan, cahaya kemilau tersebut menjadikan pemandangan yang menggemparkan penduduk Tallo, masyarakat  sontak ramai membicarakannya hingga sampai ke telinga Baginda Karaeng Katangka. 

Dipagi buta itu, Baginda bergegas ke pantai. Tapi tiba-tiba lelaki itu sudah muncul menghadang di gerbang istana. Berjubah putih dengan sorban berwarna hujau. Wajahnya teduh seluruh tubuhnya memancarkan cahaya. Lelaki itu menjabat tangan baginda yang tengah kaku lantaran takjub. Degenggamnya tangan itu lalu menulis kalimat di telapak tangan baginda perhatikan tulisan ini pada lelaki sebentar lagi merapat di pantai perintah lelaki itu lalu menghilang begitu saja. 

Baginda terperanjat. Ia meraba-raba matanya untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi. Di lihatnya telapak tangannya tulisan itu ternyata jelas adanya. Baginda  Karaeng Katangka lalu bergegas ke pantai. Batul saja, seorang lelaki tampak tengah menambat perahu, dan menyambut kedatangan beliau.

Singkat  cerita, Baginda menceritakan pengalamannya tadi dan menunjukkan tulisan di telapak tangannya pada lelaki itu. Berbahagialah Baginda. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat, kata lelaki itu. Adapun lelaki yang menuliskannya adalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sendiri. Baginda Nabi telah menampakkan diri di Negeri Baginda.

Peristiwa ini dipercaya sebagai jejak sejarah asal-usul nama "Makassar", yakni diambil dari nama "Akkasaraki Nabbiya", artinya Nabi menampakkan diri. Adapun lelaki yang mendarat di pantai Tallo itu adalah Abdul Ma'mur Khatib Tunggal yang dikenal sebagai Datuk Ri Bandang, berasal dari Kota Tengah (Minangkabau, Sumatera Barat).

Setelah memeluk Islam, Manglingkaan berganti nama menjadi Sultan Abdullah Awwalul Islam. Menyusul sesudah itu, Raja Goa XIV Baginda 1 Mangngerangi Daeng Manrabbia memeluk Islam, yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Alauddin. Peristiwa itu di tandai dengan melakukan shalat jumat yang pertama pada tanggal 19 Rajab 1016 atau 9 November 1607 yang di selenggarakan di Tallo tepatnya di masjid pemukinan orang-orang melayu. Mubaligh yang berjasa dalam mengislamkan seluruh kerajaan ialah Abdul Qadir Khatib tunggal. 

Menurut Mattulada, mubaligh tersebut terkenal dengan nama Datuk Ri Bandang berasal dari minangkabau, Sumatera barat. Datuk Ri Bandang besar kemungkinan belajar Islam di jawa timur sebagai murid salah seorang wali yang terkenal dengan sebutan Sunan Giri. Untuk selanjutnya   kerajaan Tallo dan Goa mendakwakan kepada kerajaan-kerajaan Bugis, seperti Sindenreng, Sopeng, Wajo, dan Bone yang memeluk islam berturut-turut pada tahun 1609, 1610, dan 1611 M.

Peranan kedua kerajaan Goa-Tallo itu sangat besar dalam dakwah dan penyebaran islam waktu itu, baik secara damai maupun dengan senjata, hanya dalam jangka 20 tahun saja seluruh semenanjung Sulawesi Selatan telah masuk Islam. Dalam perkembangan selanjutnya Goa-Tallo berkembang pesat, wilayahnya semakin luas, hingga membuat kompeni merasa terancam, lalu pihak kompeni melakukan berbagai macam cara untuk menghancurkannya namun usaha ini seringkali gagal, hingga suatu ketika terjadi konflik antara kerajaan Buton dengan kerajaan Goa-Tallo, arung palaka ingin menuntut balas atas kekalahannya, belanda segera tanggap lalu pihak kompeni bergabung dengan barisan aru palaka untuk menggempur pasukan gerajaan Goa-Tallo yang waktu ini berada di bawah kepemimpinan Sultan Hasanudin, perang tidak dapat dihindari bertemulah kedua pasukan di medan laga, pasukan Sultan Hasanudin terdesak yang pada akhirnya di tangkap dan di paksa menandatangani perjanjian bongaya (1667)  yang tertulis, sebagai berikut :
VOC mempeloreh hak monopoli di Makasar.
VOC di izinkan mendirikan benteng di Makasar
Makasar harus melepaskan jajahan seperti bone
Semua bangsa asing di usir dari Makasar, kecuali VOC.
Kerajaan Makasar di Makasar hanya tinggal Goa saja.
Makasar membayar semua hutang perang
Aru palaka di akui sebagai raja bone,

Akibat kekalahan saat melawan pasukan gabungan Aru palaka dan VOC, peranan kesultanan Goa sebagai penguasa pelayaran dan perdagangan berakhir.  Sementara, rakyat kesultanan Goa yang tidak bersedia menerima perjanjian bongaya semisal Karaeng Galesung dan Monte Merano melarikan diri kemataram Masyarakat bugis Makasar banyak merasa di rugikan dengan perjanjian ini, lalu mereka mengadakan pemberontakan, namun karena hanya berupa melisi-melisi kecil, mereka mudah di hancurkan oleh pihak kompeni.

Dalam dituasi inilah, lahir seorang putra Makasar yang masih mempunyai hubungan darah dengan kesultanan Goa-Tallo, pelita ummat, pejuang islam tanpa pamrih Daeng Karaeng Mushalleh yang nantinya akan menjadi pembabat pulau oksigen. Menyusun riwayat hidup Daeng Karaeng Mushalleh sangatlah sukar, karena pribadi besar tersebut di liputi kabut dongeng-dongeng tentang kebaikan, kekeramatan, dan ilmunya yang telah di buat oleh pengagumnya. A.A. Cense  (dalam Nabila: 17) dalam penulisannya tentang cara memperoleh fakta sejarah dari sumber sampingan seperti hikayat, dongeng, atau lontara mengatakan sebagai berikut:

Untuk membuktikan betapa cepat kaburnya latar belakang sejarah dari sebuah dongeng yang di tuturkan dari mulut kemulut di mana kayal dapat bermain dengan bebas. Dalam menulis riwayat hidup Daeng Karaeng Mushalleh secara singkat, penulis pun merujuk pada beberapa leteratur yang erat kaitannya dengan kesultanan Makasar mengingat sosok yang penulis tampilkan berasal dari sana, untuk mengetahui sosok Daeng Karaeng Mushalleh dan kiprahnya di pulau giliyang, penulis merujuk pada informasi dari sesepuh giliyang, khususnya orang-orang yang masih tergolong keturunan beliau, lalu penulis mencoba mengkomparasikan berbagai informasi yang di dapat dengan fakta sejarah.Harus diakui dalam proses pencariaan data, penulis banyak menemukan berbagai macam informasi yang kontaradiktif khususnya sumber yang berupa oral history (cerita lisan), namun penulis berusaha mencari data paling tidak  mendekati kebenaran.

Tentang asal muasal Daeng Karaeng Mushalleh, yang di ketahui sebenarnya bersifat legenda yang tidak dapat  di pastikan kebenarannya, ceritanya sebagai berikut:
Hampir semua sumber  sepakat bahwa ayahnya adalah  Sultan Putih bin Sultan Hasanudin, jadi secara nasab Daeng Mushalleh masih mempunyai hubungan darah dengan kerajaaan besar Goa-Tallo, adapun dari jalur ibu masih terbilang mesteri, hal ini di sebabkan tidak ada data  otentik  yang mencatat siapa sebenarnya nama ibu beliau, namun kalau dilihat dari adat istiadat Makasar, di mana mereka biasanya lebih suka  menjodohkan putra-putrinya dengan keluarga dekat, sehingga sangat mungkin ibu beliau juga berasal dari kota Mammiri.

Daeng Mushalleh  lahir dan dibesarkan ditengah-tengah kelurga bangsawan yang religius. Barangkali Sudah menjadi  kebiasaan masyarakat Makasar  waktu itu, dimana mereka sangat memperhatikan betul pendidikan anak-anaknya, mungkin dari Itina) perhatian yang besar) inilah muncullah ulama-ulama kelas dunia seperti Syekh Yusuf al-Mangkasari dan yang lain.
Sang Daeng kecil tidak hanya di bekali dengan wawasan intelektual namun juga di tanamkan nilai-nilai spritual dalam dirinya, sang ayah begitu sangat prihatin terhadap putra-putranya, ia tidak ingin anak keturunannya bermalas malasan,tidak mengefesiensi waktu yang telah Allah berikan kepadanya, pepatah mengatakan waktu  adalah kehidupan ia tidak datang dua kali, sekali ia menyia-nyaikan maka kesempatan itu akan hilang dan tiada satupun yang tersisa kecuali penyesalan. Baginda Nabi selalu mengingatkannya dalam sabdanya  Gunakan lima perkara sebelum lima perkara lain datang kepadamu manfaatkan masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum masa matimu (HR: Hakim dan al-Bany). Barangkali berangkat pemahaman makna hadist ini, Sultan Putih sangat prihatin terhadap waktu , ia tidak ingin waktu itu  terbuang sia-sia tanpa makna, itulah terbiyah yang ia ajarkan kepada Daeng Karaeng Mushalleh,yang telah beliau persiapkan untuk menjadi dambaan ummat, pelita alam. Tentu saja berat, tapi itulah tugas orang tua, mencetak generasi islam, calon generasi penerang, mutiara zaman.  Tarbiyah nabawiyah yang di berikan oleh sang ayah begitu membekas dalam karakter dan kepribadiannya, sehingga tidak heran jika nilai-nilai sufisnya telah menyatu dalam dirinya, sifat itulah nantinya menghantarkan dirinya kederajat  waliullah, sebuah derajat yang bisa di gapai oleh orang yang selalu mentaqorrubkan dirinya secara konsisten dan istiqamah kepada sang pemilik  alam.
Naluri fitrah pribadi Daeng Kareang Mushalleh sejak kecil telah menampakkan diri cinta terhadap pengetahuan keislaman, ia sudah mulai menghafal al-quran, rajin dan tekun mengkaji kitab-kitab karangan ulama salaf.
Spirit intelektualisme benar-benar melekat dalam jiwa raganya, keuletan dan ketekunannya membuahkan hasil yang luar biasa, bayanin alif dan nur Muhammad buah karya spektakuler, lahir dari buah pemikirannya yang cemerlang, motivasi ini barangkali bukan sesuatu yang aneh kerena agama islam selalu mendorong para pemeluknya untuk mencari ilmu, mengamalkan mengembangkan lalu mengajarkannya kepada orang lain.
Allah SWT berfirman :
Artinya:
Allah menganngkat derajat orang yang beriman dan berilmu diantara kalian kedalam beberapa derajat.
Dalam satu hadist rasulullah bersabda mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam carilah ilmu walupun kenegeri cina dan banyak yang memberikan penghargaan tersendiri kepada orang yang berilmu. disamping itu para pendahulu umat islam telah memberikan tauladan kepada generasi mendatang. Dalam terikh-tarikh islam mutabar disebutkan bahwa islam pernah menggapai peradaban gemilang dalam riputasi sejarah manusia, sejak zaman nabi shabat tabien tebien dimulai suasanya baru dalam islam, cahaya peradaban bersinar mulai dari bani Umayyah, Abbasiyah, Andalusia, hingga turki Ustmani. Para intektual ulama dan ilmuan muslim dari berbagai macam bidang lahir dari peradaban ini, mulai dari bidang hadist, fiqih, tafsir, filsafat, saint, kedokteran,astronomi, geografi, sosiologi dan cabang ilmu ilmu yang lain. Hal ini tentu tidak lepas dari perjuangan mereka dalam menggapai ilmu pengetahuan kesabaran dan ketekunannya menorehkan tinta emas yang dicatat oleh sejarah. Dalam sejarah kita mengenal sosok imam syafie tidak tidur semalam hanya memikirkan satu masalah yang belum terselesaikan, imam Ibn Taimiyah seorang cendikiawan yang meminta bantuan temannya untuk membaca kitabnya kepada temannya ketika masuk WC agar waktunya tidak terbuang  sia-sia dan   tentu masih banyak ulama kaliber lain yang semuanya penuh insprasi.
Penting untuk dicatat bahnya tidak ada satupun  para ulama cemerlang yang tidak menulis, hampir pengamat sejarah mencatat bahwa mereka para ulama gemar membaca dan menulis, para ahli sejarah mencatat bahwa disaat peradaban islam disetiap sudut jalan terdapat sebuah kompeks forum diskusi, siang dan malam kompleks tersebut penuh orang yang berdiskusi membahas berbagai macam ilmu pengetahuan, sungguh, gairah intelektual benar-benar nampak ditengah kaum muslimin waktu itu sehingga tidak heran jika mereka (pendahulu kita) dapat menggapai peradaban yang tidak tertandingi hingga saat ini.
cacatan sejarah kejayaan umat islam ini dapat kita baca didalam karya-karya para ulama, dari yang klasik sampai yang  kontemporer, biokrafi perjalanan intelektual dan sufisme akan memberukan kesan tersendiri bagi para pembacanya. Maka tidaklah heran kalau kita melihat sosok daeng karaeng mushalleh begitu bersemangat dalam mengkaji karya ulama’ salaf, ditengah keterbatasan tidak menjadi halangan untuk semangat dalam belajar, bahkan beliau menulis berbagai kitab yang akan beliau pelajari dan diajarkan kepada murid-muridnya salah satunya adalah kitab tafsir bernuansa sufisme Al-Futuhat Al-Uluhiyyah Bitaudhih Al-Jalalin Lid-Daqaiq Al-Khafiyah( Karangan Syekh Sulaiman Bin Umar Al-Ujailiy Asy-Syafie) dan kitab Mukhtashar Ihya Ulumuddin karya manomental Hujjatul islam al-Ghazali, kedua kitab ini dilestarikan oleh keturunnya hingga saat ini.
Adapun mengenai guru-guru beliau, tidak data yang pasti kepada siapa saja beliau belajar, hal ini disebabkan karena tidak ada orang yang beritina(memberikan perhatian penuh) untuk menulis biokrafi beliau, carita yang didapat kebanyakan hanya berkisar pada cerita lisan ( Oral history),  disatu sisi keterpautan waktu yang begitu jauh sehingga data yang memberikan kontribusi yang valid sulit ditemukan, tetapi bukan berarti suatu hal yang mustahil  menemukan siapa guru dari datuk Daeng sebab di lihat dari sosio-historis Ulama yang ada pada saat  itu sangat banyak, salah satu ulama kharismatik yang dekat dengan keluarga kerajaan adalah Syekh Yusuf al-Mangkasari dan murid-muridnya, besar kemungkinan beliau belajar kepada murid Syekh Yusuf di Makasar, seperti Syekh Abdul Fattah  Abd-Al Basir Al-Darir (Orang Buta), Al-Raffani, Dan Abdul Qodir Karaeng Jeno ketiga Ulama ini di minta oleh Syekh Yusuf untuk meneruskan perjuangan beliau di Makasar sebelum beliau hijrah ke banten (1672),
Lihlah Sang Pejuang
Kabut menyelimuti kota Daeng, kicauan burung menemani sang mentari tuk menjemput siang, suara teriakan dan seruan  allahuakbar  sering mengisi waktu besikan dan bunyi, letusan meriam seakan menjadi tanda bahwa perang menjadi sarapan kota Mammiri tersebut, jilatan imprealisme melahap bangsa, harta dan tahta rakyat di rampas, saudara setanah cita dihasud hingga timbul perang yang tiada henti. Itulah sang penjajah, kaum  tidak tahu belas kasih yang selalu haus akan kekuasaan, tentu, hal ini menjadi tekanan bathin bagi masyarakat bugis-makasar yang notabenenya sangat membenci imprealisme dan kapitalisme, lalu, timbullah reaksi keras dari masyarakat, peperangan demi peperangan seringkali terjadi sehingga tidak sedikit melelan korban rakyat jelata yang tak berdosa. Gambaran ini barangkali dapat kita saksikan di tahun 1750-an dimana api konflik antara kaum imprealis penjajah  dengan masyarakat Makasar berkobar, Sebenarnya konflik antara imprealisme asing dengan masyarakat pribumi sudah lama berkobar yakni dimulai saat barat mulai meluaskan daerahnya keberbagai daerah didunia, tujuan mereka merupakan bentuk mengewantahan imprealisme yang bertumpu pada ekspansi kekuasan dan perluasaan wilayah, pada mulai mereka datang dengan tujuan perniagaan namun seirng berputarnya jarum jam, mereka tidak hanya bergerak di bidang ekonomi tetapi merambat pada hal yang lain yaitu ekspansi  kekuasaan, satu persatu daerah ditaklukkan dan dimasukkan kedalam wilayahnya, tidak peduli meski harus meminum darah insan yang takberdosa.
  Pada masa persetuan inilah Daeng Karaeng Mushalleh hidup, masa dimana perjuangan dan pengorbanan menjadi  kewajiban masyarakat waktu itu, apalagi semangat anti imprealisme sudah sejak lama di tanamkan  oleh  ayam  jantan dari timur ( Sultan Hasanuddin). Perjuangan melawan imprealisme dan kolonialisme dilakoni bersama Sutan Putih, banyak sekali terjadi peperangan antara kedua kubu, strategi politik penjajah untuk mengusai berbagai macam sektor di Sulawesi, mereka tempu dengan berbagai macam cara, termasuk dengan hasutan dan fitnah yang lancarkan secara intens, taktik politik semacam ini dikenal sebagai politik’’ devide et impera dan terbukti stategi ini mujarab, tidak sedikit kerajaan-kerajaan Nusantara berperang antara sesama di sebabkan hasutan yang di kobarkan oleh pihak penjajah, termasuk kerajaan losari dengan toraja, padahal kedua kerajaan ini masih terbilang kerabat dekat, tetapi jika politik telah menikam sanubarinya rasa kekeluargaan itu akan hilang dan sirna , sang penjajah dengan injeksi politik  strategi yang kuat mampu mempengaruhi kerajaan toraja dengan berbagai macam hujjah yang salah satu yang di jadikan alasan belanda adalah ancaman bagi keberadaan toraja, betapapun kerajaan losari kecil tetapi jika ia di biarkan akan terus melakukan ekspedisi untuk menaklukkan kerajaan- kerajaaan sekitar. Barangkat dari strategi ini pihak kompeni dengan mudah mengelabui kerajaan toraja. Benar, lama-kelamaan perselisihan antara kedua kerajaan mulai tumbuh, bahkan tidak hanya berhenti di sini peperangan demi peperanga seringkali terjadi, sampai konspirasi politik imprealisme ini dapat di bongkar, kedua kerajaan ini lalu bersatu melawan kaum imprealis (VOC).
Lalu terjadilah pertempuran tang sangat dasyat antara kedua pasukan dengan pasukan kompeni, walaupun persenjataan tidak sehebat kompeni tetapi  semangat  jihadnya  menggelora dalam hatinya, bagai singa yang sedang lapar, siap menerkam siapa saja yang ada di depannya, kekuatan keyakinnya akan pertolongan Allah membawa pada kemenangan, lahaula quwwataillahbillah tiada daya dan upaya  kecuali pertolongan Allah
       B
 Setelah melalu perjuangan panjang yang begitu rumit dalam melawan imprealisme dan kolonialisme di Sulawesi, akhirnya dapat menuai keberhasilan, netralisasi yang di usahakan berkonsekwensi pada adanya stabilitas kedua kerajaan yang mulai pulih, kerusuhan yang sebelumnya berkecamuk mulai meredah, kedamaian antara kedua belah pihak mulai terlihat, masyarakat mulai merasakan atmosfer kedamaian dan ketentraman. Nilai-nilai ukhwah yang sebelumnya tercabik oleh fitnah mulai menyatu kembali, fenomena itu membuat Sultan Yunus sebagai pemuka kerajaan toraja merasa senang dan bahagia, demikian juga yang dirasakan oleh Sultan Putih sebagai pemangku kerajaan losari. Beberapa sumber menyatakan bahwa katika Datuk Daeng menyaksikan fenomena yang sama, hatinya terdetak untuk memusatkan dalam dunia dakwah, menyiarkan agama Islam. Penting untuk di catat, bahwa pada masa ini hegomoni imprealis belanda segitu kuat di Nusantara, banyak daerah dan kerajaan-kerajaan tunduk-patuh pada pemerintah Hindia belanda, dan perlu di ingat bahwa ciri pokok hubungan kolonial pada dasarnya berpangkal pada prinsip dominasi, eksploitasi, diskriminasi, dan dependensi. Prinsip dominasi timbul dari proses ekspansi kekuasaan imprealisme kolonialisme suatu bangsa ke bangsa yang lain. Berpangkal pada doktrin pengejaran (glory), kekayaan (gold) dan penyebaran ajaran baru penguasa ( gospel), gerakan kolonialisme barat (eropa) pada tahap awal telah melancarkan kegiatan ekspansi kekuasaan teritorial di dunia baru, untuk membangun kekuasaan kolonial. Dari sini bisa kita melihat mengapa daeng karaeng mushalleh begitu bersemangat untuk berdakwah ke tempat lain , selain panggilan agama, barangkali yang menjadi alasan utama adalah adanya gelombang  kolonialisasi dan kristenisasi  yang telah di lakukan secara masif oleh belanda, tentu hal ini terbilang kontras dengan sosio-religi di indonesia yang sudah banyak menganut agama islam, di lihat dari sisi ini, dampak besar  adanya kolonialisasi tidak hanya berupa penaklukan dan penguasaan, lebih dari itu ia juga mengharuskan adanya konversi ke dalam agama pemerintah (kristen), untuk melanggengkan dan memperkuat hegomoni di tengah masyarakat, kaum penjajah tidak segan-segan memaksa masyarakat pribumi untuk menganut agama mereka, tentu saja prinsip ini sangat bertentangan dengan prinsip dasar islam yang mengajarkan spirit pembebasan (tauhid) dari segala bentuk penghambaan kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT.
Datuk daeng meminta izin pada ayahnya, untuk berdakwa lintisyaril Islam fil alam ( menyebarkan islam),setelah di beri izin oleh ayahandanya,ia berpamitan kepada keluarga. Sebelum berangkat dakwah terlebih dahulu ia pergi ke daratan pantai losari,di tempat itu ia melaksanakan riyadhah bathiniyah sebuah amalan spesifik yang dilakukan oleh salik. alam dunia sufi riyadhah semacam ini merupakan sebuah kewajiban seorang Salik (orang yang menempuh jalan menuju marifatullah) agar hati dan fikirannya jernih, dan ketika hati jernih,  maka ia akan mudah mendapat cahaya Allah. Bagi seorang dai, jelas hal ini menjadi prasyarat utama dalam menunjang keberhasilam dakwahnya, bersifat dengan sifat yang terpuji, halus, tawakal, rela kepada qoda dan kadar, sabar atas bencana, rendah hati ,bersyukur serta mengikuti sunnah Nabi, sehingga kata ataupun nasehat yang ia berikan benar-benar menyentuh hati. Benar!, bahwa  Qalbu sebagai bumi dan ruhani sebagai langit jika dilatih  secara kontinyu dan konsisten, niscaya akan cemerlang , bagaikan kaca yang harus dibersihkan, semakin hari semakin mengkilap. Betapapun sedikitnya latihan yang di lakukan, selama berkesinambungan, niscaya akan membuahkan hasil yang mengagumkan, Stiila Cavet Lapidem. Air yang menetes secara kontinyu dan mengenal lelah, setelah berpuluh tahun, akhirnya dapat membuahkan lupang kecil batu cadas. Sebagaimana sabda nabi, Amal yang paling utama adalah perbuatan yang dawam (berkelanjutan) walaupun sedikit. Di butuhkan ketekunan, kesinambungan, dan paling penting  adalah perasaan cinta yang mendalam kepada Ilahi . Prinsip Datu Daeng  adalah  beliau tidak ingin hanya pintar menyajak manusia sementara dirinya penuh dengan lumpuran dosa, metode dakwa inilah yang banyak di praktekkan oleh para Nabi,  dan para Salafusshaleh,  dalam Al-quran Allah SWT berfirman:
Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (QS: Ash-shaf: 2)
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS: Ash-shaf: 3)
Sungguh tidak salah jika ia disebut-sebut sebagai sosok tauladan mulia, memberikan keteladanan kepada generasi masa depan dengan tindakan riil bukan hanya dengan perkataan yang kosong penuh dengan ilusi dan halusinasi dalam mimpi yang tidak pernah usai, memang nilai ketauladan perperan berperan penting dalam menggapai keberhasilan dakwa universal sebagaimana yang dicontohkan sumber tauladan sejati NABI Muhammad SAW. Selama proses riyadhah ia isi dengan aktivifas pikir dan zikir kepada pemilik kegaiban, berpuasa siang dan malam, tentu bagi yang tidak terbiasa akan terasa berat tetapi bagi seorang yang sudah terbiasa lapar (red: tirakat), akan menganggap suatu hal yang luar biasa karena dalam lapar itu ia kan temukan jati dirinya, boleh jadi kebiasaan ini memang sengaja beliau siapkan sebagai bentuk persiapan dalam rihlah yang jauh kepulauau yang sangat jauh giliyang, dimana disana ai akan tenukan berbagai macam fenomena yang tidak di bayangkan sebelumnya. Demikian riyadhah ini terus ia lakukan sampai pada 41 satu hari, dan ketika sudah sampai di penghujung waktu, allah swt memberikan penunjuk kepada Daeng untuk pergi berdakwa ke sebuah pulau yang melintang diatas mentari, seiring bergulirnya zaman pulau tersebut di sebut giliyang.
Menurut cerita masyarakat, ia berangkat dari pantai losari menuju ke giliyang diantar oleh (Ikan Paus lomba-lomba) yang sangat besar,ikan ini sangat setia kepada daeng sampai akhir hayatnya. Entah karena alasan apa, tetapi itulah kuasa Allah  yang maha tahu akan hakikat sesuatu, ia memberikan keistimewaan kepada hambanya yang shaleh, hatinya selalu khudhu dan hudhur kepada dzat yang sajati, keistimewaan itu lebih dikenal dengan  istilah karamah, kado khusus dari yang di berikan Allah SWT kepada auliyaillah. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu sesungguhnya semua perintah apabila Allah menghendaki segala sesuatunya. Allah hanya berkata : jadilah maka jadilah (QS: Yasin: 82) Dengan kuasa Allah yang mahakuasa Daeng Mushalleh dapat berbicara dengan ikan entah pembicaraan seperti apa masih dalam teka-teki sejarah, setelah terjadi percakapan  antara keduanya barulah Daeng Mushallaeh menaiki ikan tersebut. Konon ketika beliau merasa panas beliau memerintahkan sang ikan untuk masuk kedalam air sebaliknya ketika sudah terasa  dingin beliau memerintahkan sang ikan untuk keluar mengapung di atas  permukaan laut, sungguh sangat melelahkan serta memakai penghayatan yang panjang untuk menemukan keikhlasan yang tenggelam.  Sejauh penulusuran penulis tidak ada data yang jelas berapa hari beliau sampai pulau giliyang, yang jelas ikan yang menjadi kendaraan datuk  Daeng bukan ikan biasa, kalau demikian adanya, bisa saja waktu yang di tempuh oleh Datuk Daeng tidak begitu lama layaknya kapal laut waktu itu, hanya saja sebelum sampai ke giliyang beliau singgah dari pulau kepulau dari mulai daerah Sulawesi sampai keselat Madura seperti pulau Kangean, Sepudi, Raas, dan pulau pulau yang lain.
Tiba Dipulau Sere Elang
Tidak ada cacatan yang jelas,  kapan Daeng Karaeng Mushalleh tiba di giliyang di perkirakan beliau tiba di giliyang sekitar akhir abat ketujuah belas sekitar tahun 1770-an, alasan yang mendasari hal tersebut adalah cacatan sejarah raja-raja Sumenep, di katakan bahwa antara tahun 1762-1811M penambahan somala Raja Sumenep kala itu mengirimkan pasukannya ke daerah blambangan dan Makasar, dimana Makasar kala dilanda konflik dengan kompeni belanda, kemungkinan besar konfilk Losari-Toraja terjadi pada tahun ini, tetapi pada akhirnya konsprirasi politik mereka dapat di bongkar, hingga  mereka bangkit bersatu mengusir kaum penjajah dari bumi Sulawesi .
 Sang pejuang hijrah dari Makasar  menuju menyusuri pulau-pulau di semenanjung selat Madura sampai ke giliyang, perjalanan jauh yang beliau tempuh penuh dengan lika-liku, perjuangan  yang butuh banyak  pengorbanan, tetapi bagi seorang yang hatinya mualliq (selalu bergantung kepadanya Allah) tidak akan merasa terbebani, karena apa yang ia kerjakan hanya untuk kekasih sejati, Allah Rabbul izzati. barangkala sifat ini seperti jarang sekali kita temukan di abad ini, dimana hampir semua orang berjuang bukan karena panggilan hati, tetapi lebih pada adanya unsur materi, al-fikrah as-suthiyyah atau pikiran yang sempit yaitu ketika seseorang hanya mementingkan ego dan perutnya demi kepuasan dunia fana,  sungguh ketika materialisme telah menjamur di tengah umat maka kehancurannya tinggal menunggu waktu, begitulah kata asy-syekh taqiyuddin an-Nabhani dalam Karya manomentalnya at-Tafkir.
 Berdasarkan serpihan data yang berhasil di korek oleh penulis menyebutkan bahwa sebelum tiba di giliyang beliau banyak singgah di berbagai pulau di selat madura, seperti  pulau Kengean, Raas, Sepudi hingga pulau Poteran, tidak ada data yang menyebutkan secara tegas tentang motivasi apa yang menjadikan daeng karaeng singgah di pulau tersebut, hanya saja terdapat sumber yang menyebutkan bahwa jauh sebelum Daeng Karaeng datang kegiliyang telah  banyak masyarakat bandar  berlayar keselat madura, mereka menyusuri semenanjung lautan pulau garam untuk melaksanakan sebuah misi suci menyebarkan agama islam. Sebenarnya kedatangan bangsa bugis makasar juga banyak di latarbelakangi kondisi sosio-politik yang tidak stabil, instablitas dalam ruang lingkup sosial  mengilhami masyarakat untuk hijrah ke negara tetangga, tetapi walaupun barangkat dari kekacauan politis, masyarakat mugis makasar tidak melupakan tujuan pokok mereka yaitu menyiarkan agama islam. Pendapat Ini singkron dengan pendapat Datuk Dawiya bersumber langsung dari datuk Amsea, beliau menyebutkan bahwa yang menemukan giliyang pertamakali adalah orang mandar,mereka sering singgah digiliyang. Mereka menganggap bahwa giliyang termasuk salah satu tempat yang unik dan angker anggapan ini di terjemahkan oleh orang mandar dengan cara mereka mensisakan sebagian makanan untuk giliyang, demikian yang mereka lakukan ketika tiba di giliyang yang waktu itu tidak berpenghuni. Selain itu, suku bugis makasar dapat kita jumpai di pulauan kangean, di pulai ini masyarakat juga banyak berasal dari makasar , dalam satu cacatan selayang pandang pulau kangean di katakan bahwa, pembabatnya juga berasal dari Sulawesi, menurut masyarakat sang pembabat pulau ini juga termasuk salah satu kerabat dari daeng karaeng mushalleh. Dari sini dapat kita pahami mengapa daeng Karaeng Mushalleh singgah diberbagai pulau, besar kemungkinan beliau berkunjung dulu kerabat-kerabatnya di berbagai kepulaun sekaligus mengetur stategi yang jitu  dalam dakwah yang sebentar lagi akan beliau lakoni, berdakwah ditempat yang tidak dikenal sebelumnya tentu tidaklah mudah selain membutuhkan stategi yang mantap, juga dibutuhkan adanya degosiasi dengan pemerintah setempat, apalagi dirinya masih terbilang pendatang  asing yang belum diketahui kiprahnya ditengah ummat, oleh karena itulah penting kiranya untuk  bermusywarah dulu kepada orang yang paling tidak beliau kenal diberbagai pulau garam termasuk  kangean, sepudi dan pulau-pulau yang lain.
 Dalam cacatan mayarakat disebutkan sebelum setelah singgah di berbagai pulau diselat madura, beliau melanjutkan perjalan menuju pulau melintang diatas mentari ( giliyang) bersama ikan yang beliau tunggangi, dinilah tampak kegigihan  dalam berjuang, ketabahan dan kesabaran benar-benar diuji, betapa tidak, selama beberapa hari beliau tidak kunjung menemukan tanah cita tanah yang beliau, ada suatu yang keanehan yang terjadi yakni ketika beliau telah menemukan sasaran entah Kanapa obyek yang beliau lihat tiba-tiba tertutup oleh awan, peristiwa ini berulang berkali-kali, hingga membuat beliau merasa heran terhadap kenapa terjadi keanehan begitu rupa, dari itulah beliau akhirnya singgah dipulau poteran sebuah pulau yang terletak barat laut pulau giliyang, di pulau ini beliau melakukan semacam riyadhah bathiniyah dalam rangkah menyucian diri dari najis batihi sekaligus meminta penunjuk kepada dzat pemilik pengetahuan yaitu Allah SWT, siang malang beliau terus berzikir meminta penunjuk kepada Allah SWT. Riyadha dilakukan selama 40 hari 40 malam samapai dibalah dipenghujung tirakat beliau mendapatkan ilham dari sang pemilik alam Allah.Di siang yang bolong ia bertemu dengan seorang nenek tua, apakah nenek tua itu penduduk setempat ataukah penduduk lain sampai saat ini masih terbilang mesteri, masyarkat giliyang percaya bahwa sempat terjadi dialok antara keduanya, besar kemungkinan dalam diberbagai pengalaman dalam perjalanan, termasuk kendala yang dialaminya ketika ingin memasuki pulau yang terbentang diatas mentari  (baca: giliyang), cerita ini barangkali yang mengilhami nenek tua tersebut untuk memberikan dua lembar daun sirih, ia menyuruh daeng karaeng untuk mengambil daun sirih dua lembar, lalu dua lembar sirih tadi di jadikan alat untuk menerawang giliyang aolok ini daeng karaeng mushalleh menceritakan  nenek tua itu memberikan dua lembar sirih untuk di jadikan penerawang  giliyang yang ghaib (tidak terlihat), berkat pertolongan Allah SWT, ia dapat melihatnya dengan terang, berulah kemudian ia melanjutkan menuju langsung pulang giliyang, mula-mula ia tiba di pantai leggun (daerah  penghujung utara pulau giliyang) di sana beliau memerintahkan sang ikan untuk berhenti.
Langkah awal yang di lakukan oleh Daeng adalah meninjau berbaga macam tempat di giliyang  langsung menuju daratan pulau giliyang tujuan utama adalah mencari tempat yang cocok untuk memulai pembabatan sekaligus merintis pusat dakwah, untuk mengetahui tanah di tempat itu, maka dengan berdoa  petunjuk kepada dzat yang maha tahu Allah SWT, sambil   memohon  beliau mengambil segenggam tanah lalu beliau cium,  tanah itu di anggap  kurang cocok untuk dijadikan sebagai pusat dakwah, Beliaupun memerintahkan sang ikan untuk melanjutkan perjalanan, sampai di desa banraas juga melakukan hal yang sama seperti dilakukan di daerah leggun sampai yang terkhir beliau sampai di desa bancamara tepatnya di daerah somor taman beliau berhenti sang ikan yang menjadi kendaraan beliau saat itu menghantarkannya sampai ke pantai, dengan kemungkinan beliau tiba di tempat itu di saat  air pasang sehingga sang ikan bisa langsung mendarat ke daearah pantai somor taman, ditempat itu beliau melakukan ritual yang sama yakni menggenggap segenggap tanah seraya tanah itu lalu beliau cium, saat di cium seakan beliau mendapat ilham untuk tinggal didaerah sana. Seakan-akan ia berkata  pada Dato Daeng Wahai Daeng di sinilah tempat yang paling cocok di jadikan tempat untuk berdakwah,  mungkin kerena tanah panggung di anggap mengandung berkah dengan demikian sangat tepat kalau daerah itu dijadikan  sebagai pusat dakwah ( Central of education).
Benar! beberapa dekade kemudian, daerah  panggung dijadikan sebagai tempat belajar para santri untuk menimba ilmu agama serta sebagai pusat menghimpun kekuatan melawan kaum imprealis penjajah ( Lanon).
Awal Pembabatan Giliyang
Ketika daeng Karaeng Mushalleh tiba di giliyang, giliyang masih berupa alas berantara, sepi sunyi seolah menjadi hiyasan giliyang waktu itu.berbagai mahkluk hidup di dalamnya, mulai dari hewan yang liar sampai pada mahluk yang tidak tampak oleh kasat mata, jin dedemit berkeliaaran dimana-mana, sungguh  menyeramkan, fenomena ini di akui  oleh orang-orang mandar,  yaitu seorang pelaut sejati dari daerah sulawesi), setiap kali mereka melintasi perairan giliyang mereka menyisahkan satu bungkus makanannya karena merela menganggap pulau ini di anggap sebagai pulau berkah lagi angker.
Walaupun berada dalam situasi yang begitu menyeramkan Daeng Karaeng Mushalleh yang dalam jiwanya sudah di penuhi nilai-nilai spritualitas, tentu beliau tidak akan merasa kawatir terhadap fenomena yang ada di sekitarnya, karena bagi seorang salik, yang qalbunya telah di sibghah(celup) dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, karena beliau sadar bahwa mereka juga makhluk Allah yang tidak patut di takuti, hanyalah Allah rabbul izzati tempat menyembah dan mengabdi Lakhafun alaihim wala hum yahzanun , seperti itulah sifat bagi seorang yang betul-betul menghayati dan mendalami kalimat tauhid Lailaha illalah tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah SWT.
Sebelum pembabatan dimulai, terlebih dahulu beliau bermunajat kepada Allah SWT, selama berpuluh puluh hari beliau melakukan tirakat, tidak makan tidak minum (puasa) menahan  dari syahwat hewani.  sampai pada suatu ketika beliau beri ilham oleh sang pemilik alam Allah SWT, dalam petunjuk itu,  Datuk Daeng di perintah  untuk pergi ke arah barat, di sana ada kerajaan yang dipinpin oleh seorang Sultan yang sangat adil dan bijaksana namanya Sultan Abdurrahman namanya, riwayat lain menyebutkan yang menjadi pada saat itu adalah Pangeran Natakusuma (1762-1811 M ) ayahanda dari Sultan Abdurrahman. Dari kedua riwayat ini, agaknya riwayat yang  kedua inilah yang lebih mendekati kebenaran karena antara tahun 1762-17811 M adalah masa di mana Sultan Asirudin berkuasa. Sedangkan Datuk Daeng Karaeng Mushalleh di perkirakan datang ke giliyang sekitar tahun 1770-an. Dalam cacatan sejarah raja-raja Sumenep di sebutkan bahwa Pangeran Natakusuma  dikenal sebagai  sosok yang mempunyai pengatahuan agama yang luas  dan mendalam sesuai dengan kebutuhan masyarakat sumenep waktu itu. Di dalam menjalankan  roda pemerintahan ia serba hati-hati sekali, takut sampai merugikan masyarakat, kalau ada permasalahan menyangkut kepentingan masyarakat selalu dimusyawarahkan dengan sesepuh keraton dan para ulama, banyak jasa-jasa beliau yang sampai saat ini bisa di lihat serta bisa di manfaatkan oleh banyak orang,  salah satu jasa beliau adalah pembangunan keraton sekitar tahun 1781 M di depannya Nampak sebuah pendopo agung sebagai tempat raja untuk menerima laporan, memberikan petunjuk serta perintah-perintah lainnya dan juga untuk menerima tamu dari kerajaan atau pertemuan khusus dalam lingkungan kerajaan, jasa beliau yang lain adalah masjid jami Sumenep, dibuat mulai tahun  1200 H sampai  tahun 1206 H.  Dari cacatan ini dapat kita pahami bahwa  ketika Datuk Daeng menginjakan kakinya di pulau giliyang, Sumenep masih  dalam pemerintahan raja Panembahan Somala atau lebih di kenal Sultan Asirudin, sebab Daeng Mushalleh datang ke giliyang di perkiraan tahun 177O-an sedangkan tahun  1762 -1811 Kerajaan sumenep di pimpin oleh Sultan Asiruddin sesuai dengan wasiat Ratu Raden Ayu Rasmana Tirtonegoro yang dicatat oleh sekretaris kerajaan bahwa kelak  kemudian hari anak ini yang di angkat menjadi adipati (rato)  ketika ayahandanya (Bendara Moh. Saud) wafat.
Datuk Daeng  diperintahkan meminta bantuan kepadanya  dalam satu misi besar yaitu  membabat  pulau giliyang, berangkatlah ia ke Sumenep, sampai di Sumenep Datuk Daeng Karaeng Mushalleh Bertemu dengan Raja Sumenep  Panembahan Somala (Asirudin) bersama keluarga kerajaan, Sultan Asirudin kala itu di kenal sebagai orang yang sangat dekat dengan ulama Sultan Asirudin memerintahkan Datuk Daeng duduk di sebuah tempat yang memang di sediakan untuk tamu waktu itu, terjadilah perbincangan antara kedua belah pihak di mulai dari perkenalan sampai merambat kedalam pembahasan perjalanan Datuk Daeng hingga sampai kepulau sere elang, Sultan sangat kagum dengan rihlah perjuangan Datuk Daeng yang penuh dengan kerikil namun jiwanya tetap teguh, semangantnya terus berkobar untuk mensyiarkan agama islam.
Beliau lalu meminta izin sekaligus meminta bantuan untuk mengirimkan beberapa orang Sumenep ke giliyang tujuan utama adalah membantu Daeng Karaeng Mushalleh dalam membabat giliyang, keagungan akhlak dan pribadi Datuk Daeng yang kharismatik  membuat  Sultan tidak bisa untuk menolak permintaan beliau, apalagi didekasikan untuk kepetingan Ummat. Beliau menerima permintaan Datuk Daeng  serta berjanji akan membantu beliau dalam proses pembabatan pulau giliyang, lalu Sultan Asirudin mengirimkan beberapa orang ke giliyang, sebagian besar diantara mereka berasal dari tawanan Sumenep, Sultan berharap semuga dengan berkumpul dengan orang shaleh, hati mereka yang sakit menjadi sembuh fikiran  yang kotor bisa menjadi jernih, walau yang dikirim ke giliyang adalah para tawanan  Datuk daeng tidak  mempermasalahkan karena memang misi beliau adalah dakwah fisabilillah, mendidik ummat  agar  bisa menggapai kebahagiaan yang hakiki, menggapai ridha Allah SWT. Konon dulu giliyang dijadikan sebagai tempat pembuangan orang yang tidak waras ( gila /sinting) barangkali yang dimaksud orang gila tadi, para tawanan yang di berikan oleh Sultan Asirudin untuk di didik dengan siraman rohani.  Dengan harapan  mereka kembali pada jalan yang benar  yaitu  jalan Allah SWT dan rasulnya IHDINASH-SHIRATHAL MUSTAQIM .

Datuk Daeng Bersama Para Tawanan
Semangat untuk memberikan memberikan makna hidup merupakan fondasi siap mengahadapi beban apapun. Tanpa makna dan tujuan yang jelas, ia akan diombang ambingkan permainan arus INERTIA yang membingungkan dirinya sendiri. Tanpa makna hidup, manusia tidak lain  hanyalah kumpulan tulang dan daging  di tambah sekian liter air! Karena makna hidup itulah yang sebenarnya mengarahkan dan mewarnai perilaku dan peribatinnya dalam keberadaanya di tengah-tengah dunia.
Tentu saja dalam mengisi makna hidupnya, manusia akan menghadapi tantangan. Tetapi justru dengan tantangan itulah ia mampu mengembangkan hidupnya agar lebih bermakna.
penderitaan yang menyayat jiwanya dan kesengsaraan yang menerpa kehidupannya. Tidak membuat dirinya tenggelam dan penyerah pada nialai-nilai eksternal, namun justru ia merasakan romantika hidup yang bersiana. Apalah artinya hidup yang menonton, membosankan, dan tanpa ada warna dibandingkan dengan hidup yang penuh dengan perjuangan.
Bersama para tawanan yang dikirim Sultan penambahan Sumolo, Daeng Karaeng Mushalleh berjuang merintis pembabatan giliyang, beliau memulai membabat alas belantara  tak berpenghuni, hanya berbekal alat seadanya, sungguh  sebuah perjuangan yang sangat melelahkan. Namun berkat kegigihan dan semangat yang membara, dalam waktu yang cukup relatif singkat Datuk Daeng Karaeng Mushalleh bisa membuat beberapa tempat, tempat itu kemudian di buat untuk rumah para tawanan sebagian lagi di buat tempat pengajian tawanan, di awal pembabatan beliau telah membuat masjid kecil yang di sebuat masegit, tepatnya di masjid panggung yang sekarang sudah direnovasi, masegit oleh Datuk Daeng di jadikan sebagai center of education atau pusat pendidikan dan dakwah para tawanan, di masegit inilah Daeng Karaeng Mushalleh mendidik jiwa-jiwa orang gila dan sinting menjadi orang yang berilmu yang beradab. Untuk mempertahankan giliy dari kekejaman lanon, Daeng Karaeng Mushalleh memerintahkan para tawanan untuk membangun benteng pertahanan, mulailah mereka membangun benteng dari batu benteng tersebut di bangun tepatnya di daerah panggung panjang benteng sekitar 100 cm selama berpuluh puluh hari para tahanan bekerja keras untuk menyelesaikan mereka membahu membahu antara satu dengan yang lain untuk menyelesaikan tugas besar yaitu membangun benteng pertahanan dari serangan lanon ( belanda).
Selama beberapa tahun kemudian, Daeng Mushalleh berperan sebagai seorang pemimpin sekaligus penutun ummat kala itu mulai membentuk Soceaty ( masyarakat kecil) dengan cara mengawinkan para tawanan hasil didikan beliau, tawanan perempuan yang tidak  bersuami di kawinkan dengan laki-laki yang belum beristri dari sinilah dimulai terbentuknya masyarakat kecil yang menjadi cikal bakal masyarakat giliyang. Secara sosio-historis masyarakat giliyang juga berasal dari para imigran dari Sumenep yang dikirim oleh Sultan, mereka datang secara bergelombang sesuai dengan perintah, dari sini dapat kita pahami bahwa nenek moyang masyarakat giliyang berasal dari sumenep, kendatipun tak dapat dimungkiri bahwa nenek moyang  giliyang juga berasal dari kalangan Daeng, mareka kemudian membangun rumah sebagai tempat untuk berteduh bersama keluarga mereka meski berupa rumah yang sederhana mereka tetap hidup bahagia. Daeng Mushalleh sendiri juga pembangun rumah kecil, menurut cerita masyarakat, rumah beliau terbuat dari pohon bambu, berbentuk seperti panggung ala cangruan pesantren salaf tempo dulu, karena itulah manyarakat menyebutnya sebagai panggung, bentuk rumah yang seperti ini masih banyak kita temukan di pulau kangean khususnya era 2000-an semacam, untuk selanjutnya dari proses asimilasi lahirlah seorang anak yang nantinya akan menjadi masyarakat giliyang.

Rumah Adat Makasar, Barangkali seperti inilah bentuk dalem Daeng Karaeng Mushalleh yang kemudian di sebut sebagai panggung
Antara Daeng Karaeng Mushalleh Dengan Kerajaan Sumenep
Seperti yang telah disinggung di depan bahwa proses pembabatan giliyang, tidak dilakukan seorang diri, akan tetapi melibatkan orang banyak salah satu tokoh sentral yang berperan penting dalam pembabatan pulau giliyang adalah Penambahan Sumolo alias Sultan Asirudin , putra dari R. Moh. Bendara Saud (1750-1762 M), Sultan Asirudin salah satu tokoh di balik kesuksesan pembabatan pulau giliyang, dengan bantuan para tawanan yang dikirim oleh Penambahan Sumolo ke giliyang, Datuk Daeng Karaeng Musahlleh memulai pembabatan giliyang, dari sinilah kemudian terjadi keakraban antara kedua belak pihak, hubungan antara keduanya semakin dekat, sebagian riwayat menceritakan bahwa beliau sampai dijadikan sebagai pensehat Pengeran Natakusuma Ini, sampai Sultan Asirudin wafat pada tahun 1811 M, kepeminpinan selanjutnya di pegang oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat ( 1811-1854 M) . Menurut sebuah riwayat konon Daeng Kareng Mushalleh dijadikan sebagai penasehat oleh sang Sultan, ini tidak mengherankan karena Daeng juga berasal dari keluarga bangsawan, jadi pengetahuan beliau terhadap ilmu tata negara  serta  bagaimana membuat sistematika pemerintahan yang efektif dan efesien telah mengakar sajak lama dalam diri beliau. oleh kerena itu dalam masalah ini tentu Datuk Daeng tidak di ragukan lagi kualitas dan integritas  beliau, sehingga tidak ada keraguan sedikitpun keraguan dalam diri Sultan untuk mengangkatnya sebagai salah satu penasehat,  memang  sosok Sultan Abdurrahman tidak jauh berbeda dengan ayahhandanya, kharismatik cinta ilmu dan ulama adalah  sifat  ini yang telah mendarah daging  dalam diri Sultan.  Keakraban antara datu Daeng dengan Sultan Abdurrahman semakin terlihat sebab beliau telah lama bersama Datu Daeng jadi sifat dan kharisma Datu Daeng kala itu telah beliau rasakan. Konon Setiap minggu Datu Daeng pergi kekerajaan Sumenep, untuk urusan  kerajaan maupun berkenaan dengan pulau yang baru beliau rintis, pernah suatu ketika Sultan Abdurrahman pengin makan buah kelapa, berita ini lalu diketahui oleh sang Daeng lalu sang daeng memanggil pohon kelapa yang tegap tiba-tiba menuduk seakan akan paham terhaap pembicaraan sang Daeng lalu Daeng menyuruh Sultan untuk mengambil buah mana yang beliau sukai setelah selesai sang Daeng memerintah buah kelapa tadi untuk kembali tempat yang sedia kala.
Membuat Senjata Sakti
Imperialisme dan kapitalisme dibawah kompeni mengakar dalam belahan rakyat pribumi, impralisme ini mereka manivestasikan dalam bentuk yang sangat sadis, tanam paksa, dan beberapa tindak brutal lainnnya, penyiksaan terhadap rakyat ini menyebar kedaerah termasuk di Madura, di Sumenep sendiri di tahuan 1680 sampai tahun 1705  berada dalam supremasi VOC ( Vereenigde Oos Indische Compagnie)  untuk menghadapi kejadian yang tidak di inginkan Daeng Karaeng Mushalleh membuat senjata ampu, dua buah keris yang di sebut keris situasik, keris ini di kenal sebagai keris yang sangat sakti, konon pasca awal di buat ketika dikeluarkan keris ini mengeluarkan cahaya berkilau, hingga bila ada orang yang berbuat jahat di buat buta karenanya.
Sebuah riwayat menyebutkan  bahwa dalam Daeng Karaeng Mushalleh membuat keris ini melakukan ritual selama 40 hari empat puluh malam di pantai, 40 hari empat puluh malam berikutnya di laksanakan di daratan, 40 hari empat puluh malam pertama adalah waktu yang digukan oleh sang daeng untuk membuat keris laki-laki sedangkan 40 puluh hari empat puluh malam berikutnya adalah waktu yang ditempuh untuk membuat keris perempuan. Kedua keris tetap ada sampai sekarang hanya saja  kamantin (red: Madura) semacam kekuatan supranatural di kurangi oleh keturunan beliau sebab kalau tidak bisa saja membahayakan orang yang tidak kuat mengedalikan kedau keris sakti ini. Salah satu yang menguatkan alasan ini yakni riwayat yang menceritakan bahwa suatu ketika lonon ( kaum imprealis kompeni) datang ke giliyang, lantas ai bertindak semena-mena kepada masyarakat , melihat hal itu Daeng Karaeng Mushallleh merasa geram terhadaap perbuatan Lonon, ia ingin segera menghentikan perbuatan onar, lalu beliau mengambil keris kemudian berkat dengan karamah beliau keris itu seakan tampak seperti makanan, melihat ada makanan, Lonon langsung merampas seraya melahapnya sampai habis, sampai di perut sang laanon keris yang tadinya berbentuk makanan mengeras kembali, hingga membuat sang lanon mati seketika, tentu melihat pembuat onar mati masyarakat meresa senang dan gembira, sebab dengan matinya sang lanon tidak akan ada lagi yang mengganggu ketenangan dan ketertiban masyarakat gili iyang  

 



Keris Adat Kerajaan Makasar Sangat Mirip Dengan Bentuk Keris tuasie
Pribadi Al-allamah Daeng karaeng Mushalleh
Berpengetahuan Luas dan Produktif
Abat ke- XVII merupakan awal proses islamisasi di daerah Sulawesi, mubaligh yang berjasa mengislamkan seluruh kerajaan iyalah Abdul Qadir Khatib tunggal, beliau adalah salah satu murid Sunan Giri, buyut datu daeng  sendiri Mangngerengi Manrabbia, memeluk islam pada tahun 1607 M,  lalu berganti nama menjadi sultan Alauddin, setelah Sultam Alauddin memeluk islam, beliau lalu melakukan ekspedisi ke kekerajaan tetangga, dengan tujuan mengajak mereka untuk memeluk islam, serta bergabung dengan kerajaan Goa-Tallo, usaha ini menuai keberhasilan banyak di antara kerajaan di makasar memeluk agama islam seperti, sendenreng, sopeng, wajo, dan bone. Dari inilah kemudian membuka kesadaran masyarakat bugis-makasar akan orgensitas ilmu penegatahuan, sultan sebagai sebagai pemuka kerajan yang sangat gandrung terhadap ilmu, mampu menyedot perhatian masyarakat kala itu, sehingga muncullah ulama-ulama besar seperti Syekh yusuf al-Mangkasari, seorang ulama multitalenta dari kerajaan, Mangadicinna Daeng Sitiba Sultan Mahmud juga tokoh besar dari kerajan ini karena  peduliannya terhadap ilmu pengetahuan, seorang penyair belanda bernama JOOST VAN DEN VONDENL memuji cendikiawan karaeng pattingalloang itu melalu sebuah syair, sebagia berikut :
Wiens aldoor snuffeleede  brein
Een gansche werelt valt te klein.
(orang yang fikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya). Tradisi semacam ini berkembang secara turum banurun tidak sedikit keturunan-keturunan kerajaan Goa-Tallo menjadi ulama, salah satunya adalah sultan putih barangkali sosok beliau ini tidak banyak disinggung oleh kalangan sejarawan, padahal beliau di kenal  sebagai orang yang sangat alim dan berpengatahuan luas, ini tidak mengherankan sebab ayah beliau termasuk orang yang sangat perpengaruh baik lawan maupun kawan, karena itulah bibit yang muncul dari pemangku kerajaan losari ini juga mempunyai pengetahuan laksana lautan, memang betul kata pepatah buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, itulah barangkali gambaran keluasan ilmu yang dimiliki Daeng Karaeng Musahlleh. Daeng karaeng  dikenal sebagai orang yang ahli ilmu  yang cukup produktif banyak kitab yang di hasilkan dari buah pemikiran beliau, setidaknya ada dua tulisan beliau yang sampai saat ini tetap menjadi bacaaan inspiratif meng isinya dapat menggugah  hati dan jiwa dua kitab itu adalah kitab BAYANIN ALIF dan KITAB NUR MUHAMMAD ( Cahaya Nabi Muhammad). Kitab bayanin alif ini, lebih banyak berbicaya tentang tasawwuf, bagaimana hakikat shalat, hati dan jiwa manusia, kitab ini juga berbicara sir-sir dalam tubuh manusia, kalau ditelusuri lebih lanjut corak tasawwuf Datuk Daeng Mushalleh agaknya banyak di ilhami oleh ulama besar asal Makassar Syekh yusuf al- Mangkassari (lahir tanggal 8 syawal 1036 H bertepatan  3 juni 1629 M), sebab dari berbagai sudut ajaran antara Daeng Karaeng Mushalleh  dengan Syekh Yusuf al-Mangkasari sangatlah mirip, selain itu syekh yusuf juga terkenal sebagai tokoh sufi asal Makassar yang sangat dekat dengan keluarga  kerajaan gowa, kemunkinan besar buyut buyut Deng karaeng Mushalleh pernah  belajar kepada Syekh Yusuf lalu buyut beliau mengajarkannya hingga sampai kepada beliau. sedangkan kitab NUR MUHAMMAD menerangkan tentang penciptaan langit dan bumi, menurut shahibul kitab, membaca kitab ini membuat hati bergetar, kata-kata menyentuh hati dan jiwa, membuat pembaca tergugah untuk selalu taat kepada sang pencipta alam, Allah SWT. Menurut beberapa sumber yang dianggap valid beliau mengajarkan kitab ini kepada santri-santrinya.
Wara Dan Zuhud
Zuhud termasuk salah satu sifat yang mulya, para ulama memberikan pengertian pada pendidikan . Dalam kitab mukhtasar Ihya Ulumuddin di sebutkan tiga macam zuhud
Pertama: memaksakan zuhud terhadap dunia serta memerangi nafsunya di dalam meninggalkannya walaupun disukainya. Ia adalah memaksakan zuhud serta mudah-mudahan berlangsung terus sampai ia mencapai zuhud
Yang kedua: ia bersifat zuhud terhadap dunia dengan suka rela sebab meremehkannya di samping ada yang diharapkan, seperti halnyi orang yang meningggalkan satu dirham demi dua dirham serta ini tidak memberatkannya, akan tetapi ia harus memperhatikan keadaan dirinya. Ini juga kata imam al-ghazali mengandung sebuah kekurangan.
Yang ketiga: zuhud yang paling tinggi, yakni jikalau seseorang bersifat zuhud dengan suka rela serta tidak pernah merasakan zuhudnya, sebab ia tidak menganggap bahwa ia telah meningalkan sesuatu sebab ia tahu bahwa dunia bukan apa-apa.
Maka lanjut al-Ghazali ia bagaikan orang yang sedang meninggalkan tanah liat serta mengambil permata. ia tidak pernah menganggap itu sebagai pengganti, sedanggalkan dunia sendiri kalau dibandingkan dengan akhirat maka tidak ada papa-apanya.
Daeng karaeng  Mushalleh  adalah seorang alim yang zahid dan ahli ibadah, hal ini dapat di lihat dari keserhanaan beliau, rumah beliaudari bambu yang sangat sederhana seperti rumah papam, keserhadaan ini tidak lepas dari pancaran ilmu yang ada dalam yang buliau miliki, beliau tidak terbuai dengan keindahan dunia, jiwanya terpaut untuk selama bergantung pada sang pemilik kesejahteraan Allah SWT. Dalam derajat lezuhutan , beliau telah  mencapai derajad yang ketiga, sebuah derajat tertinggi sifat zuhud sebagaimana dituturkan oleh al-ghazali diatas, sifat ini misalnya beliau manefestasikan dalam kehidupannya sehari-hari , dalem beliau hanya terbuat dari bambu yang sangat sederhana seperti rumah papan. selain itu beliau juga di kenal sebagai orang yang sangat wara menjaga diri barang yang syubat, selalu berpuasa dan tirakat (riyadhah batiniyah) . kebiasaan ini beliau jalani sampai akhir hayatnya sebuah sifat terpuji yang layak untuk ditiru oleh generasi sekarang.
Anti Imprealisme
      Sebagai seorang pemimpin beliau berusaha megarahkan masyarakat dan ummat pada jalan kebaikan, menjaga nereka dari dharar karena bagi pemimpin sejati duka ummat adalah duka bagi dirinya, kebahagiaan bagi ummat adalah kebahagian bagi dirinya. Awal kepemimpinan Datu daeng merupakan awal dimana penindasan politik dan ekonomi, di bawah hegomoni orang-orang kompeni banyak masyarakat merasa tertekan, mereka diwajibkan membayar upeti di atas kemampaun mereka, oleh karena itulah banyak diantara  masyarakat kepulauwan pada umumnya yang memberontak terhadap kebijakan belanda (lonon) . Belanda terus mengadakan penetrasi ke daerah-daerah kepulauan, giliyang yang menjadi sasaran utama, acapkali mereka mengumpulkan pasukan untuk mengusai giliyang namun usaha mereka selalu gagal, sebab masyarakat giliyang walaupun hanya berupa small soceaty ukhwah islamiyah untuk membendung penetrasi politik penjajah, masyarakat giliyang terus mengadakan perlawanan, salah satu pioner di balik perlawanan tersebut tentu tidak lepas dari peran Daeng Karaeng Mushalleh, beliau selalu menanamkan nilai perjuangan pada santri-santri beliau, semangat untuk merdeka terlepas dari kungkungan kaum kuffar adalah api yang selalu beliau bakar dalam lubuk hatinya. Sejarah mencatat bahwa beliau seringkali mengadakam kontak senjata dengan pihak. Terdapat sebuah riwayat suatu ketika para Lanon ( sebutan masyakat giliyang untuk kaum imprealis) beserta bala tentara mengepung giliyang di lengkapi dengan persenjataan yang lengkap mereka telah siap menggempur giliyang, melihat hal itu tentu masyarakat giliyang merasa panik , daeng karaeng mushalleh menenangkan masyarakat beliau langsung menuju tempat di daerah legung, kapal musuh berbaris, daeng karaeng mushalleh dengan kecerdasan dan politik beliau beliau lalu sholat dua rakat di samping batu besar di daerah leggun setelah selesai shalat beliau berdoa kepada Allah SWT. Tiba-tiba datang angin kencang di temani badai yang sangat besar, membuat kompeni panik, hatinya telah di selimuti ketakutan , mereka mendapat dua opsi lari tapi selamat dengan konsekwensi misi gagal bertahan mati konyol akhirnya mereka lari dengan kapal mereka, sebagian besar diantara mereka tidak bisa selamat dari jilatan siraja laut, tenggelam di tengah ganasnya badai, daeng karaeng mushalleh bersyukur kepada allah SWT, karena telah di selamatkan dari kekejaman sang lanon begitu juga masyarakat giliyang tahmid dan syukur bergemuruh sebagai tanda syukur keharibaan sang khalik Allah SWT.
Penyayang Hewan
Mungkin sulit sekali mencari penyanyang binatang semacam Syehk Ahmad ar-Rifaei. Beliau adalah tokoh sufi besar pendiri tarekat Rifaeyah, sebuah ordo sufi memiliki banyak pengikut terutama di daratan afrika utara.
Konon, bila ada nyamuk hinggap dang menggitnya, beliau tidak pernah mengusirnya. Bila ada orang yang hendak mengusir nyamuk yang menggigit tubuh beliau itu, beliau justru melarangnya. Biar nyamuk ini minum dari darah yang dijadikan sebagai rezekinya oleh Allah. Kata beliau.
Bila ada belalang hinggap dipakaiyannya saat sedang berjalan dibawah terik matahari, maka beliau mencari tempat berteduh. Beliau duduk berdiam diri disitu sampai beliau pergi sendiri.  belalang ini ingin berteduh  dengan  bantuan kita, kata beliau. Syekh Ahmad ar-rifae tetap tidak mau menarik lengan bajunya. Beliau malah menggunting lengannya itu, lalu pergi shalat. Setelah kucing itu bangaun dan pergi, beliau menjahit kembali bajunya itu.
Barangkali tidak jauh dari sosok diatas, Daeng karaeng Mushalleh  dikenal sebagai sosok penyayang, sifat penyayang ini tidak hanyak terfokus pada makhluk  sesama manusia, namun sifat ini beliau manifestasikan pada makluk yang lain seperti hewan, diceritakan katika beliau berjalan di tengah perjalanan ada burung yang sedang makan maka beliau berhendak sampai burung tersebut selesai makan dan terbang dengan sendirinya atau kalau sedang kebutuhan yang mendesak yang harus beliau laksankan sementara di depan beliau ada hewan yang sedang makan, beliau lalu mencari jalan lain demikian supaya tidak mengganggu hewan tersebut. Sifat ini yang kemudian beliau tanamkan kepada keturunan-keturunan beliau.
 Pulang Keharibaan Kekasih Tercinta
Ulama adalah pewaris para nabi begitulah bunyi hadist nabi yang sangat masyhur, para ulama yang telah  mengajarkan serta membingbing ummat kedalam jalan yang benar, penyejuk hati mereka disaat gundah, pemberi siraman rohani disaat hati gersang sehingga ummat menjadi tentram dan bahagia. Setelah sekian lama berjuang membinbing, mengayomi, dan melindungi ummat dari dunia kegelapan, beliau akhirnya di panggil oleh sang kekasih tercinta, bagi seorang al-alim pertemuan dengan Allah adalah citanya karena ialah hakikat tujuan sejati hidupnya, hidup dan matiku hanya untuk allah tuhan semesta alam , namun sebaliknya bagi umat, justru merasa kehilangan sosok tokoh panutan, inspirator sekaligus motivator kebaikan selama ini telah kembali, kesedihan yang membara kala itu berkecamuk menjadi satu,  namun itulah takdir tidak dapat di bendung SESUNGGUHNYA SETIAP MANUSIA AKAN MATI. mulai masyarakat berbondong bonding untuk memberikan penghormatan yang terakhir kalinya kepada  pejuang islam, pelita alam. jasad beliau lalu dikuburkan di pemakaman asta  (tepatnya di belakang SDN BANCAMARA 1 sekarang).   Allahumma firlahu warhamhu wafuanhu.
Mutiara Hikmah Dari Sang Pejuang
Dalam salah satu karya monomentalnya al-Allamah Daeng Karaeng Mushalleh mesehati ummat dengan nasehat sebagai berikut:
Pertama adalah jauhi sifat riya. Riya adalah beramal tidak karena Allah SWT, beramal semata-mata kerena ingin mendapat pujian dan pujaan dari manusia,ia termasuk sifat yang tercela bahkan Rasulullah saw, menyebut riya sebagai bentuk syirik kecil yang harus dijahui, riya akan menghancurkan segala perbuatan baik yang ai lakukan ia tak ubahnya bara api yang ada dalam sekam. Oleh kerena itu Daeng Karaeng Mushalleh selalu mewanti-wanti untuk menjauhi sifat ini, caranya,  ikhlaskan perbuatan kita karena Allah SWT.
Kedua: jangan menyihir orang, Sihir adalah ikatan-ikatan, jambi-jambi, perkataan yang dilontarkan, secara lisan maupun tulisan, atau melakukan sesuatu yang berpengaruh terhadap badan, hati tau akal orang yang terkena sihir secara tidak langsung. Al-allamah Al-Syekh Atha ibn Khalil  menguraikan dalam kitab tafsirnya bahwa Sihir
Sihir adalah upaya menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya secara imajinatif.
Menyihir  termasuk perbuatan yang mungkar yang akan dapat membinasakan dirinya. Rasulullah SAW bersabda:
اجتنبواالموبقات الشرك باالله والسحر
 ‘’jauhilah hal-hal yang membinasakan yaitu menyekutukan Allah dan sihir ( HR: al-Bukhari dan Muslim).
Ketiga : jheuhi sifat sombong (Jauhi Sombong). Syekh Islam Ibni Qumadah dalam Mukhtashar Minhajil Qashidin berujar bahwa Kesombongan termasuk sifat yang melahirkan berbagai macam perbuatan lahir yang merupkan buahnya. Sifat ini bisa di defisikan dengan menganggap dirinya lebih tinggi dari pada orang lain atau melihat dirinya di atas orang lain dalam suatu kesempurnaan. Saat itulah dia disebut orang yang sombong, adanya orang lain itulah yang membedakan dengan ujub, sebab ujub hanya membutuhkan pelaku. Bahkan andai dia di ciptakan sendirian dia masih memungkinkan mempunyai sifat ujub. Berbeda dengan kesombongan, dia hanya di mungkinkan bila seseorang bersama orang lain. Dan dia menganggap dirinya lebih unggung atasnya, seseorang yang melihat dirinya dengan kacamata mengagumkan orang yang dibawahnya.
Kesombongan menghalangi orang masuk surga karena dia menghalangi seseorang untuk mempunyai akhlak yang beriman, sebab pemiliknya tidak mampu mencintai orang-orang yang beriman dengan sesuatu yang di cintai untuk dirinya, tidak bisa tawadhu, tidak mampu menghilangkan dendam, iri, dam marah, tidak dapat menahan marah dan menerima nasehat, serta tidak bisa meninggalkan perbuatan menghina manusia dan mengungunjingnya. Pendek kata, seluruh akhlak yang jelek bersumber dari kesombongan.
Keturunan Daeng Karaeng Musalleh
Daeng karaeng mushalleh mempunyai satu putra yaitu daeng ahmad Bati daeng ahmad bati mempunyai keturunan satu daeng sora difa atau muhammad husein muhammad husen mempunyai ketununan denga sora laksana sedang beliau sendiri mempunyai empat keturunan Asyari Abd- Syahid, abd karim, abd thaha. Adapun mengenai istri beliau tidak ada riwayat yang jelas dengan siapa beliau kawin, namun kalau ditelusi lebih lanjut dalam adat makasar, masyarakat makasar lebih suka menjodohkan putra-putrinya dengan kerabatnya sendiri, mereka menganggap jalan seperti itu dapat lebih mempererat hubungan jalan silaturrahim. Dengan in sangat mungkin istri beliau juga berasal dari makasar sebab menurut sebuah riwayat setiap bulan sekali beliau pulang ke makasar untuk berkunjung ke kerebat-kerebatnya.

Silsilah Datuk Daeng Karaeng Mushalleh Pembabat Giliyang Pertama
Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tuminanga Ri Kaukanna
Raja ke- 14 Goa-Tallo 1593 - 15 Juni 1639 M



Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna
Raja Ke-15 Goa-Tallo 1639- 6 November 1653 M


Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla'pangkana
Raja Ke-16 Goa-Tallo 1653-1669 M


Sultan Putay
Adipati Kerajaan Losari 1755 M

Daeng Karaeng Mushalleh
Pembabat Giliyang pertama 1712-1815 M


Daeng Ahmad Bati
Pembabat giliyang kedua


Daeng Macura/Sora Difa/Muhammad Husein

                                                          Daeng Karaeng Sora laksana /Abdul Hamid


REFERENSI DAN NARASUMBER
Misdarun
Shaleh
Datuk Aryo/ Muajjer Alrm.
Hakim
Dawiya Lahuakbar
 Asmoto
Abdulghani
Kalsum Mana Nahwan
Essam
Suharmo
Atra
Kabbi
Murais
Sahrup
Maryam
Nabila Lubis, Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makasari Menyingkat Intisari Segala Rahasia, Mizan, Bandung, 1994
Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, Lintasan Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan, TP Raja Grafindo Persada, jakarta, 1999
M.Solihin, Sejarah Dan Pemikiran Tasawwuf Di Indonesia, bandung, Pustaka Setia Bandung, 2001
Sartono Kartodirdjo  dan  Djoko Suryo, Sejarah Perkebunan Di Indonesia Kajian Ekonomi, adtya media, Jogjakarta, 1991
KH Toto Tasmara, kecerdasan Ruhaniyah, Gema Insani Press, jakarta, 2002
Ahmad Rifae  Agiel, Riwayat Singkat Raja-Raja Sumenep dan Peninggalannya, 2002
Sejarah Sumenep, Tim Penulis Sejarah Sumenep (TPSS), 2003
 Sejarah Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Di Nusantara karya : krisna bayu adji,  2014
Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II Dr. Badri yatim, M.A, 2010
DR. Azmumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII, Bandung, Mizan, 1998
Prof. DR. Azmumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara Sejarah dan Wacana, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 1999
Prof. A. Hasymy, Sejarah  Masuk  dan  Berkembangnya  Islam Di Indonesia, PT al-Marif, 1989
Taufik Abdullah, Sejarah Lokal Di Indonesia, Yogjakarta, Gadhah Mada University Press, 1990
Darwa Rasyid MS, Peristiwa  Tahun-Tahun Bersejarah  Sulawesi Selatan dari Abad Ke XIV S/D XIX,
Prof. DR. Buya Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, jakarta , Pustaka Panjimas, 1982
Catatan : Data ini adalah hasil olahan observasi pertama selama 10 hari di pulau giliyang, data yang penulis dapatkan terbilang terbatas,  oleh karena itu rekontruksi data yang tertulis akan tetap mengalir seiring dengan adanya data baru yang lebih  valid,  insyaallah  data ini akan disempurnakan pada penulisan berikutnya.

Ikuti juga instagram kami di Giliyangku .

0 Response to "Sejarah Daeng Masalleh Pembabat pulau Gili iyang - pulau oksigen "

Post a Comment