Profil Desa Bancamara Gili Iyang

Pulau Giliyang secara administratif berada wilayah Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Secara geografis berada pada koordinat 060 59’ 9” LS dan 1140 10’ 29” BT dengan luas 921.2 Ha. Pulau Giliyang dahulu dikenal dengan 2 nama yang berbeda yaitu Gila Iyang dan Gili Elang. Menurut penuturan penduduk setempat terdapat 2 sejarah yang berbeda mengenai asal muasal nama pulau tersebut, yang pertama adalah Gila Iyang yang artinya gila dari nenek moyang, dahulu pulau ini merupakan pulau yang dijadikan sebagai tempat pembuangan orang gila, pulau ini saat pertama ditemukan merupakan pulau yang ditempati oleh orang gila. 


Yang Kedua asal nama pulau ini adalah Gili Elang atau Pulo elang yang memiliki arti pulau yang hilang dalam bahasa Madura, karena pada zaman penjajahan belanda dahulu pulau ini merupakan pulau yang tidak ditemukan/ hilang sementara pulau-pulau disekitarnya telah ditemukan terlebih dahulu. Dari hasil verifikasi Tim Pembakuan Nama Rupabumi Tahun 2006 kemudian nama pulau ini dibakukan menjadi Giliyang yang telah dikenal oleh masyarakat di Sumenep.

Sejarah Pulau Giliyang sendiri ini pertama kali ditemukan oleh orang Mandar yang bernama Daeng Masaleh pada tahun 1926, Daeng Masaleh merupakan orang yang pertama kali membuka jalan dan membabat hutan di Pulau Giliyang. Menurut tetua di Pulau Giliyang, Daeng Masaleh tersebut datang dari Pulau Sulawesi dengan dituntun oleh Ikan Hiu hingga akhirnya menemukan daratan pulau. Daeng Masaleh pertama kali mendarat di ujung utara Pulau Giliyang namun segera berpindah ke bagian barat karena terdapat wabah kusta di lokasi tersebut, setelah berpindah ke bagian barat kemudian Daeng Masaleh menetap di bagian Timur Pulau yang sekarang
 
dikenal sebagai wilayah Desa Bancamara hingga akhirnya berkembang pemukiman penduduk dan banyak penduduk asli madura yang pindah di pulau Giliyang.Pulau Giliyang saat ini berpenduduk mayoritas dari suku madura, sedangkan suku pendatang awal seperti Mandar dan Bugis yang dahulu menempati pulau Giliyang sudah tidak ada di pulau ini. 

Pulau Giliyang terbagi menjadi dua desa yaitu Desa Bancamara dan Desa Banra’as. Pulau Giliyang merupakan pulau yang cukup dikenal karena kandungan oksigennya yang cukup tinggi berdasarkan penelitian LAPAN tahun 2006 sehingga sering disebut “pulau awet muda” hal ini juga dibuktikan dengan banyaknya penduduk lanjut usia yang masih sehat dan bugar. Selain dikenal sebagai pulau awet muda pulau Giliyang juga dikenal sebagai penghasil teri di daerah Sumenep. Kegiatan perekonomian penduduk sangat bergantung pada Pelabuhan Dungkek sebagai tempat penjualan hasil tangkapan dan tempat kegiatan ekonomi berlangsung.


Aksesibilitas menuju Pulau Giliyang cukup mudah yaitu dari Pelabuhan Dungkek dengan menggunakan kapal sewaan dengan jarak yang ditempuh selama 1- 1,5 jam bergantung pada kondisi cuaca. Tidak terdapat angkutan reguler dari/menuju Pulau Giliyang, jadi pengunjung pulau harus menggunakan kapal nelayan sebagai alat transportasi satu-satunya. Kepemilikan lahan di pulau ini adalah tanah adat yang secara turun temurun diwariskan dari nenek moyang mereka yang pertama singgah di Pulau Giliyang kemudian seiring perkembangan penduduk daratan Pulau Madura banyak yang menempati pulau tersebut.


Desa Bancamara memiliki jumlah penduduk 5.238 jiwa dan 2077 KK. Penduduk Pulau Giliyang seluruhnya beragama islam dan berasal dari suku Madura, sudah tidak terdapat suku Mandar dan Bugis yang awalnya menempati pulau ini. Desa Bancamara dibagi menjadi 7 Dusun yaitu Dusun Bancamara Barat, Bancamara Timur, Lembena, Baniting Selatan (Laok), Baniting Daja, Peape, dan Melengan.

Desa Bancamara terletak di Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep yang memiliki luas administratisi 514,92 Ha, dengan jumlah penduduk 5462 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 2558 jiwa dan perempuan 2904 jiwa. Secara umum kondisi fisik Desa Bancamara memiliki kesamaan dengan desa-desa lain di wilayah Kecamatan Dungkek. Ketinggian Desa Bancamara dari permukaan air laut adalah 25 meter dengan curah hujan


35, panjang musim penghujan dari bulan Desember sampai dengan bulan April dan panjang musim kemarau dari bulan April sampai dengan bulan Desember. Hamparan tanah Desa Bancamara tergolong teratur, tidak berbukit, sehingga aman dari bencana.






0 Response to "Profil Desa Bancamara Gili Iyang"

Post a Comment